Sajak Lentera Kehidupan

Sayup malam menghiasi relung belahan jiwa mendalam.

Setiap detik menit maupun jam akan selalu terngiang wajah indah penuh senyum bahagia menyimpan ribuan sakit.

Ayah…..

Kau rela banting tulang hanya untuk sebuah kebahagian anak

Kau rela kulitnya terbakar oleh cahaya matahari namun kau tak pernah mengeluh sedikit pun

Kau selalu bertingkah baik kepada anak mu

Dikala kau sibuk tak pernah sekalipun anakmu mendengar keluh kesahmu kau selalu menyimpan itu agar anak anak mu juga tak merasakan pedihnya penderitaanmu. Namun yang ku tahu hanya ada di anganmu agar anakmu tidak merasakan pedihnya penderitaan sepertimu.

Aku tau kau begitu bangga jika melihat anakmu berprestasi berpenghasilan cukup. Aku terkadang malu jika anakmu saja tak pernah sedikitpun menunjukan adab semua itu sirna terlelap nikmat duniawi.

Aku sadar aku bodoh

Kau relakan semua itu demi anak namun entah apa yang anak pikirkan

Aku hanya asyik berkumpul dengan teman bercanda gurau dengan temen

Aku melupakan bagaimana bisa memberi pijatan bukti bakti kepada mu

Aku bodoh lebih mementingkan elektronik ku

Aku tak memberi sedikitpun kebahagiaan kepada ayahku.

Sungguh durhakanya diri ini melupakan bakti kepada ayah.

Ahhh bodohnya diri ini.

Ibu…

Kaulah wanita terbaik yang ku temui di dunia tak ada satu orang pun wanita yang akan menggantikan posisimu bagiku kaulah bidadari ku yang memberi banyak waktu dan perjuangan.

Sejak aku ada di kandungan

Aku saja sudah merepotkanmu awal kehamilanmu kau tak merasakan betapa beratnya penderitaan kau memperjuangkan sebuah kehidupan anak

Di sela itu kau tetap merelakan waktu untuk menghidupi keluarga melayani keluarga

Kau merelakan waktu hanya untuk memberi gizi terbaik untuk apa yang ada dalam perutmu kau tak pernah egois ketika kau mengalami kehamilan kau relakan semua demi keluarga.

Ibu…

Kau lah pelita di kegelapan hidupku

Kau lah orang yang tau segalanya tentang diriku.

Andai saja ada konotasi indah untukmu pun tak pantas untuk di samarkan kepadamu.

Kini tiba di saat dimana perjuanganmu membawa beban perut yang mungkin sangat sulit untuk kau lalui

Kau kesana kemari mengemban pilihan antara hidup dan mati.

Dimana detik detik pecahnya air ketuban yang ada dalam perutmu meneteskan banyak darah berkucuran

Kau tak mengatakan itu beban kehidupan namun kau mengganggap itu adalah sebuah perjuangan yang harus di menangkan dengan merelakan hidup atau mati.

Di ujung perjuangan nafas di hembus kan hanya untuk sebuah kehidupan ku

Di situlah datang pilihan antara ibu yang akan meninggal atau aku yang harus Tak merasakan kejamnya duniawi.

Namun Tuhan Berkehendak lain kau seorang pelita tetap bertahan hidup dan di temani anak yang akan merasakan kejamnya duniawi. Di situ lah Peran seorang ayah agar anaknya merasa bahagia, beliau melantunkan suara adzan sebagai kata atau ucapan yang akan pertama kali aku dengar.

Saat kecil ketika aku membuang air kecil kaulah wanita yang tidak merasa jijih dengan air seniku Di saat aku lapar dan haus hanya air ASI mu lah yang akan menghilangkan itu. Kau berkorban terlalu banyak untuk hidup ini. Kaulah seorang bidadari dari kehidupanku

Tak ada kata lain untukmu selain kaulah penyelamat terindah dan terbaik dalam catatan hidupku.

Seiring beriringan jalan kau membantu aku agar tau bagaimana rasanya memakai tubuh ini.

Kau mengajariku berjalan

Kau mengajariku berbicara

Hingga aku tau bagaimana kehidupan yang baik.

Kaulah guru pertama dalam hidupku.

Ilmu yang kau beri ialah dasar untuk bahagia dunia dan akhirat.

Tak ada sajak ataupun majas yang pantas untuk dirimu